Angka Global Competitive Index (GCI) Indonesia Turun, Karena Serangan Asing?

No votes yet.
Please wait...

Terus memperhatikan perkembangan Indonesia adalah tugas penting kita sebagai warga negara. Salah satunya untuk turut menjaga kapabilitas inovasi negara. Karena pelaku dari inovasi-inovasi ini, adalah masyarakat sendiri. Sayangnya, GCI Indonesia pada tahun lalu mengalami penurunan hingga lima perangkat. Apa yang menjadi penyebabnya? Apakah dikarenakan serbuan asing yang menguasai pasar Indonesia?

Serbuan asing ke Indonesia, memang banyak menghambat kinerja pelaku ekonomi, utamanya dalam hal omzet. Masyarakat luas lebih menyukai memanfaatkan barang-barang asing dibandingkan menggunakan produk lokal. Hal ini dinilai dapat menurunkan angka GCI, namun tidak sepenuhnya. Karena sebenarnya yang menjadi permasalahan utama adalah bagaimana kemampuan Indonesia dapat menghadai kompetisi global. Lantas, apakah masyarakat Indonesia tidak mampu bersaing dengan global?

Apa yan telah dilakukan masyarakat Indonesia, sebenarnya telah diusahkan dengan maksimal. Terbukti, dengan berhasilnya beberapa produk masuk dan diminati oleh dunia global. Sebut saja salah satunya Indomie ataupun produk kopi seperti Exelcso dan lainnya. Kehadirannya di pasar internasional, menunjukkan bahwa Indonesia mampu dan siap bersaing dalam pasar Internasional. Kualitasnya pun tidak perlu diragukan, karena telah memiliki banyak penikmati hingga dunia luar.

Permasalahan lain muncul karena orang Indonesia tidak memiliki kapabilitas inovasi yang tinggi. Tercatat, bahwa saat ini, tingkat kapabilitas Indonesia menduduki peringkat 74 dari 141 negara di dunia. Hal ini memperlihatkan, bahwa Indonesia berada di pertengahan peringkat dan memiliki kategori sedang. Namun, akan sangat sulit karena inovasi inilah yang mempengaruhi kemampuan Indonesia untuk dapat menghadapi kompetisi global. Mengingat, negara lain terus berlomba mengeluarkan produk-produk terbaru dan canggih di pasar Indonesia.

Berkaca dari hal ini, bagaimana keadaan negara-negara serumpun kita? Kebanyakan mereka, berada di atas peringkat Indonesia. Karenanya pekerjaan ini, dapat menjadi pekerjaan panjang, inovasi harus dilakukan dan dipelihara, walaupun perjalannya tidak mudah. Dinilai sebagai pekerjaan yang panjang, apa saja yang telah dilakukan pemerintah untuk menaikkan inovasi dan kompetisi global dengan pasar internasional?
Para punggawa negara, telah berusaha dan melakukan tindaklanjut dengan cepat. Para punggawa ini segera melakukan rapat terbatas dan menghasilkan kebijakan untuk keluarkan produk terbaru. Produk yang dimaksud adalah pengembangan dan penguasaan teknologi, hingga mampu memproduksi drone dalam negeri. Drone tersebut dikenal dengan nama Elang Hitam, yang merupakan produksi dari Kementrian Pertahanan, TNI-AU, Dirgantara Indonesia dan Len Industri.

Pesawat udara nirawak diperkenalkan ke khalayak pada 30 Desember 2019, lalu. Tidak hanya berusaha mengembangkan usaha pesawat nirawak, punggawa negara juga membangun usaha dengan mengembangkan pabrik Garam di Gresik. Pabrik garam akan mendorong petani garam, memiliki dan dapat menyimpan garam dalam bentuk garam industri. Karena hingga saat ini, produk garam dalam negeri secara kuantitas belum cukup memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Sayangnya dalam hal kualitas, garam lokal belum memenuhi syarat sebagai garam industri. Keadaan ini dikarenakan kandungan NaCl yang lebih rendah dan pengotor (impurities) yang melebih standar. Walaupun demikian, punggawa negara tetap berusaha dan bekerjasama dengan PT. Garam dan membangun sebuah proyek yang dikenal dengan pilot project. Pilot project akan menjadi model peralatan proses pemurnian dengan skala produksi hingga 40 ribu ton setiap tahunnya.

Pelaksanaan proyek akan dilakukan secara terintegrasi. Sehingga Petani dapat menyimpan dan membuat garam dengan standar internasional. Pilot project garam industri bertujuan agar dapat menghasilkan berbagai produk turunan garam, contohnya sebagai bahan baku obat, bahan farmasi, minuman isotonik dan yang lainnya. Tujuan akhirnya, secara ekonomis pemanfaatan seluruh mineral garam dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

Tidak hanya mengembangkan inovasi dan bersaing dengan dunia global, pengembangan pesawat nirawak dan perusahaan garam diharapkan dapat menjawab kebutuhan nasional. Keduanya menjadi harus menjadi fokus utama, karena pengembangan keduanya dapat menjadi penyelesai kebutuhan nasional. Secara bersamaan, pengembangan dan kualitas dari produk terus dibuat dengan maksimal. Sehingga, dapat berkompetisi di pasar internasional.
Secara garis besar, persaingan dengan brand dari luar negeri memang menjadi kendala bagi pasar Indonesia. Namun sebagai solusinya, pelaku usaha dapat mengembangkan produknya agar lebih inovatif dan diminati oleh banyak pasar, termasuk pasar internasional. Serta dapat dimanfaatkan sebagai salah satu komoditas untuk melengkapi kebutuhan dalam negeri.

No votes yet.
Please wait...

Tags: #GCI #Indonesia

Leave a reply "Angka Global Competitive Index (GCI) Indonesia Turun, Karena Serangan Asing?"

Author: 
    author